بمعنى
أن الإنسان عندما يأتي إلى مجتمع من المجتمعات فإنه يستطيع أن يكسبها ويتفاعل
معها، كذالك فإن الإنسان يولد عديم الثقافة، ولم تكن لديه فكرة عن عادات مجتمعه أو
ثقافته، وأنه بعد أن ينمو ويشب يستطيع أن يكتسب عادات مجتمعه واتجاهاته وهذا لا
يحدد إلا بعد فترة من العيش.
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang
mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.[1]
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang
berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi
dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartika aksiologi
sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh.[2]
Ilmuan sebagai
orang dengan latar pengetahuannya yang cukup, harus bertanggung jawab untuk
menyampaikan pengetahuannya secara porporsional kepada masyarakat dengan bahasa
yang dapat mereka cerna. Tanggung jawab sosial ini penting dalam rangka
mengusahakan kebenaran epistemologi, baik dari segi untung-rugi, baik-buruk,
dan sebagainya, sehingga penyelesaiannya yang objektif terhadap setiap
permasalahan sosial yang dimungkinkan.
Ilmu
merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara
terbuka oleh masyarakat.
Jikalau hasil penemuan perseorangan tersebut memenuhi syarat-syarat keilmuan
maka ia akan diterima sebagai bagian dari kumpulan ilmu pengetahuan dan dapat
digunakan dalam masyarakat.
Chaer (2003:30) menyebutkan bahwa bahasa adalah alat verbal
untuk komunikasi. Sebelumnya (1994), ia menegaskan bahwa bahasa sebagai “suatu
lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota
masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri”.
إن المنهج التعليم بمعناه الواسع مكوناته عديدة لا تقتصر
على المقررات الدراسية، وإنما تتسع لتشمل أهداف المنهج ومحتواه وطرائق وأساليب
التدريس ووسائل التعليم والنشاط المدرسي وعملية التقويم، كما تتخذ النظرة إلى العلاقات
بين هذه المكونات إلى الاتجاه نحو الإدراك والإفادة من التداخل والتشابك والتفاعل
بينهما إذ تقوم الجهة المختصة بتخطيط المنهج ومحتواه وبما يحقق أهدافه.