Jumat, 25 Mei 2012

RESENSI BUKU


RESENSI BUKU
Judul buku      :  Filsafat Ilmu (Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi  Pengetahuan)
Penulis             :  Prof.Dr. Ahmad Tafsir
Penerbit           :  PT Remaja Rosdakarya – Bandung
Tahun Terbit    : 2010
Cetakan           : V
Ukuran  buku  :  22 cm x16 cm
Jumlah halaman: 247 halaman
Harga buku     : Rp. 40.300,-
Mistik: Ilmu Hitam vs Ilmu Putih
             Sebut saja Prof. Dr. Ahmad Tafsir, guru besar pada fakultas tarbiyyah Bandung ini lebih menyukai tulisan bertema pendidikan dan filsafat. Lahir di Bengkulu tahun 1942. Bermula dari ketertarikannya dengan agama, dari sekolah Rakyat kemudian melanjutka PGA (pendidikan guru agama di Fakultas Tarbiyyah IAIN Yogyakarta. Tidak berhenti di sana, beliau mengambil S2 dan pada tahun 1987 sudah mendapatkan gelar doktornya.
            selain buku-buku filsafat lainnnya seperti Filsafat Ilmu: Menuju Pengetahuan Mistik, filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, salah satu bukunya yang sangat menarik dan tidak membuat pembaca bosan untuk kembali mengulang-ngulang membacanya adalah buku Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi pengetahuan. Buku fenomental yang sudah cetak ulang lima kali ini memberikan pandangan luas mengenai makna pengetahuan. Pembaca dapat membedakan Ilmu dan pengetahuan, dan menguak pengetahuan dengan menggunakan ukuran isi Al-Qur’an sehingga membentuk kapling pengetahuan yang dijabarkan secara sederhana oleh penulis.
            Lebih menariknya lagi, buku ini memuat uraian mengenai perbedaan makna logis dan rasioanal. Dua kata yang acap kali mempunyai kemiripan makna, namun penulis membedakannya. Penulis juga membagi pengetahuan manusia pada tiga kapling yaitu pengetahuan sain, pengetahuan filsafat dan pengetahuan mistik. Penulis menjelaskan setiap kapling tersebut dengan ontologi, epistemologi dan aksiologi beserta contoh-contoh yang dapat diterima oleh akal manusia.
            Penjelasan pada bab terakhirnya benar-benar memutar akal manusia, pembaca diajak mempercayai adanya Mistik. Pengetahuan mistik yang merupakan pengetahuan  supra-rasional tentang objek supra-rasional, menurut penulis merupakan pengetahuan yang tidak dapat dapahami oleh rasio yang terkadang memiliki bukti empiris dan non-empiris. Ukuran kebenaran Mistik pun berbeda dengan pengetahuan sain dan pengetahuan filsafat. Bila teori sain rasional dan ada bukti empiris, maka teori itu benar. Bila teori filsafat logis maka teori itu benar. Sedangkan ukuran kebenaran mistik diukur dengan berbagai ukuran, yaitu bila pengetahuan mistik itu berasal dari Tuhan maka ukurannya ialah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Seperti adanya Surga dan neraka, maka kebenarannya adalah Teks Al-Qur’an yang menyatakan adanya surga dan neraka. Mistik juga dapat diukur dengan bukti empiris seperti kebal, orang kebal dapat dibuktikan dengan kulitnya tidak mempan ditusuk jarum. Banyak contoh lain mengenai pengetahua mistik. Beberapa contoh pengetahuan mistik dipaparkan penulis beserta bagaimana cara memperoleh ilmu mistik tersebut, seperti ilmu laduni, jangjawokan, sihir, ilmu kebal, santet, pelet, debus, nyambat, dan ilmu kanuragaan. Semua contoh tersebut dapat menjadi ilmu putih dan ilmu hitam tergantung maksud dan tata cara pemakaian ilmu mistik tersebut.
            Dari setiap keunikan dan kelebihan sebuah buku, pastilah ada rumput yang tidak selalu hijau, karena menurut pepatah, rumput tetangga lebih hijau dari rumput pekarangan sendiri, jelasnya tidak ada gading yang tidak retak.  Jilidan buku yang kurang kuat membuat pembaca perlu berhati-hati dalam membuka tiap lembaran-lembarannya. Penulis juga sering menggunakan kata dus, yang untuk sebagian pembaca tidak mengetahui maksud makna kata tersebut. Namun, secara umum, dengan berbagai revisi yang sudah dilkukan penulis, buku ini sangat membantu dalam memahami pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...